DEBAT PAMUNGKAS “Ujian Nasional Tidak Bisa Dijadikan Tolak Ukur Kemampuan Para Peserta Didik” di Smadhani.

UN dianggap kurang ideal serta efektif untuk mengukur prestasi belajar. Materi UN juga terlalu padat, sehingga cenderung berfokus pada hafalan, bukan kompetensi. UN belum menyentuh ke ranah aspek kognitifnya, tetapi lebih kepada penguasaan materi. UN juga belum menyentuh karakter para peserta didik secara holistik.

Jika di lihat dari ranah perjalanan pendidikan, UN di berbagai wilayah Indonesia diselenggarakan sebagai suatu formalitas belaka dan banyak juga yang menyelenggarakan UN dengan ketidakjujuran sehingga banyak yang berfikiran kalau UN sudah kurang efektif untuk dilaksanakan lagi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti saat ini tengah meminta banyak pendapat terkait beberapa kebijakan di dunia pendidikan. Termasuk soal UN, Kurikulum Merdeka dan beberapa kebijakan lainnya.

Terkait wacana UN akan diadakan lagi, pakar pendidikan sekaligus guru Bahasa Indonesia di SMA Dharma Wanita Surabaya Bapak Gaguk Adi Masdianto, M.Pd. mengemukakan pendapatnya. Adi menekankan bahwa keberadaan UN tidak bisa menjadi gambaran tentang kualitas pendidikan di Indonesia.

Menurut beliau adanya tes terstandarisasi, ketika nilainya bagus dianggapnya anak itu pintar. Padahal belum tentu karena nilai bagus itu hanya sekadar menunjukkan seseorang pandai atau hanya menunjukkan bahwa anak tersebut mahir saja dalam menjawab soal-soal yang diberikan dalam tes. Namun tes tersebut tidak menunjukkan bahwa seorang peserta didik menguasai semua pembelajaran yang diberikan.

Oleh karena itu, seorang guru Bahasa Indonesia yang sering dikenal dengan nama Pak Adi mengajak para peserta didiknya di lingkungan SMA Dharma Wanita Surabaya untuk berlatih mengasah pola pikir kritis, logis serta sistematis melalui praktik DEBAT PAMUNGKAS dengan Mosi: “Ujian Nasional Tidak Bisa Dijadikan Tolak Ukur Bagi Kemampuan Peserta Didik” antara kelas X.1 & X.2

Dalam praktik debat tersebut, tim afirmasi berpendapat bahwa Ujian Nasional (UN) tidak dapat dijadikan tolak ukur kemampuan peserta didik secara menyeluruh karena hanya mengukur kemampuan akademik tertentu dalam waktu singkat. Selain itu, hasil UN juga dipengaruhi oleh kondisi mental, ekonomi, tekanan saat ujian, serta perbedaan kemampuan setiap peserta didik. Tim afirmasi menilai bahwa ujian praktik dan proses belajar selama sekolah lebih mampu menunjukkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.

Sementara itu, tim oposisi berpendapat bahwa UN tetap penting sebagai alat evaluasi akademik dan salah satu indikator kemampuan peserta didik. Menurut mereka, UN membantu menciptakan standar penilaian yang adil dan merata karena diselenggarakan secara nasional. Tekanan dalam UN juga dianggap sebagai bagian dari proses evaluasi dan pembelajaran mental bagi peserta didik.

Hasil proses debat tersebut para peserta didik mampu mengemukakan bahwa kemampuan peserta didik tidak dapat dinilai hanya melalui satu jenis ujian. Penilaian sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, baik melalui ujian tertulis, praktik, maupun proses belajar selama sekolah agar hasilnya lebih adil dan mencerminkan kemampuan peserta didik secara lengkap.

Meskipun UN memiliki kelebihan untuk pemetaan, alat ukur ini tidak boleh berdiri sendiri. Harus ada kombinasi antara UN, portofolio, dan penilaian berbasis sekolah untuk menggambarkan kemampuan peserta didik secara komprehensif.

Surabaya, 09 Mei 2026

CATEGORIES:

Uncategorized

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *